Indonesia Pengguna Software Bajakan Nomor 7 Terbesar Dunia
Berdasarkan riset Business Software Alliance (BSA) dan Ipsos Public
Affairs 2010 menyebutkan, dari sisi perilaku pengguna dan kurangnya
penegakan hukum untuk penggunaan software ilegal, Indonesia berada di urutan 7 terhadap penggunaan software ilegal
(tanpa lisensi) dari 32 negara di dunia. BSA melakukan survei terhadap
400-500 responden di 32 negara. Secara global BSA melaporkan bahwa 74
persen pengguna komputer pribadi di dunia menggunakan software
ilegal. Lebih jauh lagi, berdasarkan tingkat pemakaian software bajakan,
IDC (International Data Corporation) dalam 2010 Piracy Study yang
dirilis Mei 2011 menyatakan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat
ke-11 dengan jumlah pemakaian software bajakan sebesar 87 persen.
Sementara studi dampak pemalsuan terhadap perekonomian Indonesia yang
dilakukan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) dan Lembaga
Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia (LPEM UI) pada 2010 menyatakan, produk software palsu menjadi
salah satu produk yang banyak digunakan konsumen Indonesia sepanjang
2010 yakni sebesar 34,1 persen. Sekjen MIAP Justisiari P Kusumah di
Jakarta, Kamis (16/2/2012), mengatakan MIAP sebagai salah satu komponen
masyarakat merasa ikut bertanggungjawab untuk mensosialisasikan fakta
bahwa dengan adanya peredaran dan penggunaan barang palsu dan barang
bajakan secara langsung telah menyebabkan kerugian negara serta
hilangnya kesempatan kerja.
"Jadi argumen yang mengatakan kegiatan pemalsuan dan pembajakan telah
mendorong perekonomian negara dan menciptakan lapangan kerja tersebut
adalah merupakan argumen yang tidak valid karena jelas dari hasil studi
justru kegiatan tersebut membawa dampak negatif," ujarnya. Dari 12
sektor industri di Indonesia, total kerugian akibat pemalsuan barang
atau bajakan ditaksir berkisar Rp 43 triliun. Industri software
merupakan salah yang terbesar mengalami kerugian, diperkirakan berkisar
Rp 15 triliun.
Berikut software yang paling populer :
1. Keluarga Microsoft
Sulit rasanya memungkiri ketergantungan pengguna komputer di Indonesia
atau bahkan di dunia terhadap software buatan perusahaan milik Bill
Gates ini. Sistem operasi Windows dan aplikasi perkantoran Microsoft
Office merupakan dua software yang paling sering dibajak.
Diyakini Kepala BSA Indonesia Donny A. Sheyoputra, mulai dari pengguna
komputer di perkantoran hingga rumahan telah bergantung kepada dua
software Microsoft tersebut. Di luar Windows dan Office, ada pula
Microsoft Visio yang dikatakan juga sering ditemui ketika digelar razia.
2. Adobe
Software-software keluaran Adobe juga dianggap cukup sering menjadi
korban bajakan. Produk yang paling sering jadi korban adalah Photoshop.
Aplikasi ini juga bak menjadi aplikasi edit gambar/foto wajib bagi para
pengguna komputer Tanah Air.
3. Symantec
Untuk jajaran antivirus, Symantec dengan produk Nortonnya menjadi
aplikasi yang sering dibajak. Symantec 'bersaing' dengan McAfee untuk
menjadi software keamanan yang sering digunakan tanpa izin.
4. Autodesk
Meski termasuk aplikasi yang segmented alias hanya digunakan oleh
kalangan tertentu tak membuat software keluaran Autodesk tak diminati
oleh pengguna tak resmi. Donny mengatakan, software Autodesk tak hanya
untuk mereka yang bekerja di industri desain seperti arsitektur dan
pengembang bangunan. Namun juga bisa dipakai oleh perusahaan biasa untuk
merancang tata letak peralatannya.
5. Corel
Sementara Corel juga menjadi aplikasi edit gambar/foto yang sering
ditemui ketika razia digalakkan. Donny juga tak yakin, aplikasi yang ada
di komputer-komputer sitaan tersebut digunakan semaksimal mungkin.
"Yang penting instal saja," tukasnya kepada detikINET.
Presentasenya sebagai berikut :
- China: 86 %
- Nigeria: 81 %
- Vietnam: 76 %
- Ukraina: 69 %
- Malaysia: 68 %
- Thailand: 65 %
- Indonesia 65 %
- Saudi Arabia: 62 %
- Korea Selatan: 60 %
- Meksiko: 60 %
- Brazil: 55 %
- Kolombia: 54 %
- Chile: 53 %
- Rusia: 52 %
- Spanyol: 50 %
- Polandia: 48 %
- Republik Ceko: 47 %
- Turki: 43 %
- Argentina: 39 %
- Italia: 37 %
- Australia: 37 %
- Amerika Serikat: 34 %
- Swiss: 31 %
- Belanda: 30 %
- Inggris: 30 %
- Jepang: 29 %
- Swedia: 29 %
- India: 28 %
- Kanada: 27 %
- Prancis: 26 %
- Jerman: 21 %
- Afrika Selatan: 20 %
Sumber: detik.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar